Excerpt for Diary Puisi - #3 Magnolia by , available in its entirety at Smashwords

#3

MAGNOLIA

Diary Puisi

Irpan Rispandi


Pengantar


There is no greater agony than bearing an untold story inside you.” ~Maya Angelou


Laksana hamparan padang ilalang kala malam, yang dihias kerlip ribuan kunang-kunang. Benak kita setiap saat dipenuhi kerlip rasa, ide dan pemikiran. Ketika melihat sesuatu, mencium sesuatu, meraba sesuatu, benak kita serta-merta bertabur kerlip cerita.


Kerlip-kerlip ini akan tetap melayang dalam alam pikiran, sampai dia digantikan kerlip cerita baru atau terlupakan oleh waktu. Namun sering kali, banyak kerlip kisah yang bertahan dalam angan, seolah enggan pergi. Dia terbang berputar-putar memenuhi hamparan ruang benak kita, demikian jumawa, tak memberi tempat pada kerlip yang baru untuk hidup.


Jika kerlip jumawa tersebut berisi cerita bahagia, memang kita akan sentiasa merasa bahagia. Namun jika kerlip jumawa ini berisi cerita pedih, kita akan menderita dirundung sedih. Setiap putaran kerlip sedih, jiwa dan raga kita menderita, dan terus berulang selama kerlip sedih ini melayang di benak kita.


Ada banyak cara untuk memutus belenggu penderitaan itu. Salahsatunya adalah dengan cara mengukirkan kerlip ini pada selarik tulisan. Tulislah apa yang kita rasakan, maka kerlip ini akan keluar dari benak kita, berpindah mengisi ruang tulisan dan terpahat selamanya disana. Dengan demikian pikiran kita akan menjadi ringan kosong, untuk nanti ditumbuhi kerlip pemikiran baru.


Begitulah yang saya lakukan selama ini. Menuliskan kerlip-kerlip asa dalam bait-bait puisi. Untuk mengeluarkan kerlip jumawa. Mengapa puisi? karena dengannya saya bisa mengukirkan kerlip asa dengan indah, sarat makna, semua rasa bisa tercurah.


Namun, satu puisi saja hanyalah kepingan peristiwa. Padahal hidup kita itu merupakan rajutan ribuan peristiwa. Itulah mengapa puisi-puisi ini saya susun menjadi buku. Karena dengan mengumpulkannya menjadi buku, akan terjalin rangkaian peristiwa yang dengan sendirinya mewujud satu episode dalam hidup.


Kerlip-kerlip pemikiran mengisi benak, merupakan buah pengalaman kehidupan. Ketika dia diukir pada tulisan, mudah-mudahan bisa meringankan beban si penulis dan mewujud menjadi sesuatu bagi para pembacanya.


Selamat berpuisi…



Irpan Rispandi

@aa_irpan


NB: Terima kasih kepada KreativeHexenkueche yang karya fotonya dijadikan cover buku ini.


~~~***~~~


~~ 23 Mei 16 ~~

Hanya hujan

yang membasahiku dan mu

Deras dan guntur


Dalam air-air kecil

terlihat bingkai-bingkai

yang berisi langit malam

meski cerah disaat pagi


Hanya hujan

yang membasahiku dan mu

menimpa ujung daun

mengetuk ubun-ubun


Dalam gumpal-gumpalan temaram

terlihat bingkai-bingkai

yang berisi laut dalam

meski semula berombak tenang


Hanya hujan

yang membasahiku dan mu

menetes butirnya di pelipis

menarik senyum segaris

dalam sadar kepasrahan


Kupu-kupu terbang

menyusuri lengkung pelangi

yang hanya bisa kita pandangi

dan tetap melangkah lagi


~~~**


~~ 1 Jun 16 ~~

Aku punya kabar untukmu bintang

Bahwa lautan tengah gundah

Gelombang-gelombang bergulung menggunung

Air mendidih memusar memilar

Berderap petir berkilat memecah gelap

Lidah halilintar merentang bercabang


Angin tak perlu dikisah lagi

Berlari sebat mengangkat muka laut pekat

Raung suaranya bak peluit kereta

Kereta raksasa di terowongan maha besar


Aku punya kabar untukmu bintang

Meski kau di atas sana

Hanya bisa berkelip lemah

Namun sampainya kabar dariku

Mampu menguapkan duka

Meredakan badai yang menggelora


*~~~~


~~ 19 Jun 16 ~~

Jejak-jejak di untai waktu

Sejak Merah menjadi Biru

Mengundang haru


Dulu Indah, sekarang pun Indah

Hanyalah warna yang berubah

Permukaan yang tenang tanpa gelombang

Jangan sampai ditiup angin pasang


Deru badai menjelang

Urunglah niatmu

Biarkanlah kuncup mekar Biru


~****


~~ 5 Jul 16 ~~

Kemana perginya mutiara-mutiara kataku

Yang biasa kurangkai dan kusajikan indah

Kini kering kerontang


Seketika sedih menyungkup

Memaksaku luruh berlutut

Sujud bertahan dua tangan

Membayang lembar-lembar kesilapan


Aku hanyalah patung debu

Yang buruk tak berharga

Bahkan kalaupun debu berharga


Aku hanyalah noktah zarah

Yang tak pantas dianggap ada

Bahkan kalaupun zarah itu harus ada


Dalam sedih yang menyungkup

Bersujud bertahan tangan

Ratapan jiwaku melangit


Ah, adakah pantas jiwa ini melangit?

Jiwa hina berkubang lumpur debu

Jiwa yang kerdil

Jiwa yang Meraaaah, Hitaaam kelaaam...


Isakku tak terucap

Hanya genangan yang sekuat tenaga kubendung

Beserta seluruh getaran sendi-sendi

Dalam sujud ku menyerah


Dibawah telapak keagunganMu

Kupasrahkan pertimbangan semua Merah Hitam kelamku

Aku tak berharga bahkan untuk sekedar berharap Engkau melihatku

Ampuni aku

Ampuni aku

Ampuni aku...


~~~~*


~~ 5 Jul 16 ~~

Aku bukan ibarat bambu

Yang lurus menjulang tinggi

Aku ibarat semak perdu

Yang serabut penuh duri


Tiap ucap tingkah dan budi

Sentiasa menusuk hati

Serakah iri dan dengki

Tak lepas dari nurani


Aku bukan ibarat mata air

Yang jernih segar

Aku ibarat kubangan lumpur

Yang keruh kental


Aku mungkin sahabat

Hanya saja menjengkelkan

Aku mungkin kawan

Hanya saja mengesalkan


Sudikah kau menghalalkan

Semua kesalahan yang pernah kulakukan

Baik yang terasa maupun tidak

Karena tanpa maafmu saudaraku

Semua sujudku hanyalah asap tipis tanpa makna


Aku memohon maaf lahir dan bathin


Taqobbalallohu minna wa minkum, shiamana washiamakum.


Taqobbal yaa kariiimm.


Amiiinnn


~~~**


~~ 25 Jul 16 ~~

Titik-titik hujan

Menghanyutkan bulir-bulir kenangan

Akan bejana gelas penuh madu

bening merona emas

kental mengalir ikal


Terasa sedap meski tidak dicecap

Bahkan sekedar menyentuh dari jauh

Telusuri dengan ujung telunjuk

Permukaan halus tembus pandang


Bejana gelas penuh madu

andai ada lebah terjerumus ke dalamnya

dia kan mati bahagia

Tenggelam dalam beningnya


Bejana gelas penuh madu

berbingkai lengkung-lengkung hitam

busur mengatup

menutupi baris-baris mutiara

sepasang jeli bercahaya

gemerlap bintang utara


Bejana gelas penuh madu, ku terlena....


*~~~~


~~ 8 Aug 16 ~~

Aku menikmati dingin

Sebagai pelukan yang membuai

Menghadirkanku alam kenangan

Tentang dingin yang sangat indah


Aku meresapi dingin

Sebagai lembut lembar-lembar beludru

Menyejukkan meski sedikit mengelitik

Menghadirkan senyum senang malu


Aku menyukai dingin

Sebagai bingkai rindu


*~~~~


~~ 18 Aug 16 ~~

Malam bermandi cahaya lembut

Rona Putih Gading

Bersanding semilir

Sejuk angin


Dewi Malam tersenyum simpul

Menyaksikan hati-hati yang tersihir pesonanya

Berubah menjadi hamba keindahan

Yang tak sekedip pun terlewat

Tanpa getar-getar hangat memendar


Kau hanya tersenyum maklum

Melihat hati-hati yang tenggelam

Dalam kedung Purnama

Tak ingin keluar dari kubangan rindunya

Meski sakit menggigit

Perih indah yang menarik gurat senyum

Dengan mata terpejam gemas


Dewi malam

Begitu anggun wibawamu

Menuntut hati-hati berlutut

Dalam lenanya, mereka memintamu jadi saksi

Akan hari-hari indah yang akan mereka jalani

Sampai akhir nanti...


~~~~*


~~ 5 Sep 16 ~~

Bulan sabit ditemani sejumput awan bulu domba

Menutup hari penuh rona

Lampu gedung berwarna benderang

Semarakkan ujung petang yang riang


Siang bertabur derai tawa

Gemanya terdengar sampai senja


Purchase this book or download sample versions for your ebook reader.
(Pages 1-10 show above.)