Excerpt for Merintis Gerimis by , available in its entirety at Smashwords

This page may contain adult content. If you are under age 18, or you arrived by accident, please do not read further.




Lasinta Ari Nendra Wibawa, ST



MERINTIS GERIMIS




“…padamu langit warna kelabu

kumohon jawab pertanyaan kalbu:

“mengapa kini aku merintis

dalam hari penuh gerimis?...”













©Merintis Gerimis

Lasinta Ari Nendra Wibawa

All rights reserved


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak seluruh atau sebagian dari isi buku ini tanpa seizin tertulis dari Penerbit.


ISBN:


Penyunting: Kinanthi Anggraini, M.Pd.

Tata Letak: Ari Nendra

Desain Cover:


Cetakan Pertama, Januari 2015

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Penerbit:










HALAMAN PERSEMBAHAN


Ayahanda tercinta, Sugita, A.Ma.Pd.

Ibunda tercinta, Sri Sadarsinah, A.Ma.Pd.

Kakakku terkasih, Ginting Prasetya ENC, S.E.

Adikku terkasih, Herwit Daya T, Amd.Kep.

Adikku terkasih, Febrian Ardik Alamanda

Isteriku tersayang:

Kinanthi Anggraini, M.Pd.











DAFTAR ISI


KUTANYA CAHAYA, AIR, DAN API 7

PERSAKSIAN LANGIT 8

PERMINTAAN LANGIT 9

DERMAGA 10

EVOLUSI CINTA 11

SEMAK BELUKAR 12

MERINTIS GERIMIS 13

LADANG GERSANG 14

CAHAYA ILLAHI 15

JALAN TERBAIK 16

PELAYARAN TERAKHIR 17

LANGKAH BERMUARA LELAH 18

KARAMKAN AKU 19

TIKUNGAN PERPISAHAN 20

LUKA YANG MEMBATU 21

NAMA YANG TERUKIR 22

USAI CINTA, BERTUNAS BENCI 23

GERIMIS BERTUNAS RINDU 24

USAI HUJAN, BERTUNAS PELANGI 25

REMBULAN YANG MEMUCAT 26

RETAK PERSANDINGAN 27

RINDUKU MELAPUK 28

PENANTIAN LUKA 29

PESONA PARANGTRITIS 30

ADALAH MILIKKU 31

APA LAGI YANG HARUS KUBAWA 32

BISAKAH KITA GANTI ARTI DEMOKRASI 33

CERITA SEORANG ANAK KEPADA IBUNYA 34

POTRET JALANAN 35

ELEGI DAUN GUGUR 36

BURUNG 37


AJARI AKU BERCINTA 38

DEMIKIAN AYAH TULIS SAJAK 39

AKU RUMPUT 40

FENOMENA 41

USAI PESTA 42

BONEKA DAN RODA 43

INGIN KUSAMPAIKAN 44

DOA 45

PELAJARAN MENDESAIN 46

SEPERTI HUJAN 48

PERJALANAN DEBU 49

HUJAN DI NEGERIKU 50

TELEPON CINTA 51

KURSI TAMAN 52

TELEPON 53

PESAN IBUNDA 54

TRAFFIC LIGHT 55

RODA 56

CINTA 57

ARLOJI MUTIARA 58

JALAN SUNYI 59

SEPERTI BIASA 60

SECUIL TANYA 61

ANGKA 62

YANG MASIH KUTUNGGU DENGAN SETIA 63

JENDELA YANG MEMIMPIKAN SENJA 64

TULANG IGA 65

MENUNGGU RAMADHAN 66

AKU AKAN MENGAJAKMU BERLAYAR, CINTA 67

DEMIKIAN KITA LAHIR SEBAGAI SEPASANG KAWAN 68

YANG BEGITU GERAM MENGGELINDING DI JALAN 69

INGIN KUPULANGKAN KATA 70

KEPADA ENGKAU YANG MEMALINGKAN MUKA 71

LIHATLAH LUKA DI DAHIKU, DINDA 72

KETIKA AKU MENANDAI 28 JANUARI 73

ANTARA SINGAPURA DAN SURAKARTA 74

DOA YANG MEMANGGILKU KEMBALI

KE PANGKUANMU 75

KEPADA KENANGAN-KEMENANGAN

YANG TAK BISA DITUKAR 76

SERUPA GELAS 77

IHWAL PERKENALAN 78

SEPUTAR OBROLAN 79

NASIHAT IBU 80

TENTANG KARYA 81

GEAR 82

SKETSA PESISIR 83

SEPERTI DEDAUNAN 84

PONSEL 85

MUNAJAT 86

GERIMIS 87

RAK BUKU 88

RINDU 89

TENTANG LELAKI 90

PEREMPUAN YANG MAHIR MENIKAM SUNYI 91

HIKAYAT SEPASANG BRA 92

GERAK SEMU MATAHARI 94

PETUALANGAN INTAN 95

PERAHU 96

TENTANG GAZA, TENTANG INDONESIA 97

HIKAYAT SEBUTIR MUTIARA 98


BIODATA PENULIS 99






KUTANYA CAHAYA, AIR, DAN API


kutanya cahaya

mengapa dunia nian gelap?
dia menjawab:

dunia tidaklah gelap

yang gelap, hati manusia


kutanya air

mengapa dunia kering?
apa jawabnya?

dunia tidaklah kering

yang kering, jiwa manusia


kutanya api

mengapa dunia kian nian panas?
dia menjawab:

dunia tidaklah panas

yang panas, nafsu manusia


Jepara, 23 Februari 2005


Dimuat di harian Suara Merdeka (Rubrik halaman 17), 20 Maret 2005.












PERSAKSIAN LANGIT


segala tipu muslihat

penyimpangan umat
telah kulihat

jeritan hambar

jeritan samar

telah kudengar

pahitnya suka

manisnya duka

telah kurasa

telah kulihat…sarat maksiat
telah kudengar…sejuta dusta
telah kurasa…tentang manusia


Jepara, 24 Februari 2005


Dimuat di harian Suara Merdeka (Rubrik halaman 17), 20 Maret 2005.

















PERMINTAAN LANGIT


maafkan aku…

jika aku tak seindah dulu

dan tak lagi berwarna biru

karena semua juga ulahmu

kau tebangi semua pilarku

untuk hiasan perabotanmu


wahai makhluk berbudi

permintaanku hanya satu

jagalah sahabatku

bumi ini

seperti kau jaga dirimu


andai kau sadari

sakit bumi ini adalah sakitmu

derita bumi adalah deritamu jua

sekali lagi, jagalah bumi!


Jepara, 24 Februari 2005


Dimuat di majalah MOP, Edisi Mei 2005.













DERMAGA


jangan kau ajak aku bersama

jika kau anggap sebagai dermaga

atau tempat pelepas dahaga

saat kau haus akan peluknya

karena aku tahu

ketika badai berlalu

kau akan angkat sauhmu

lalu kau lanjutkan petualanganmu

mencari pelabuhan baru


Jepara, 2 Juli 2005


Dimuat di harian Solopos, 23 Maret 2014 dan majalah Ekspresi, Edisi Mei 2014.




















EVOLUSI CINTA


kerlingan nakal menebar wangi-wangi bunga yang dahaga akan belaian kumbang kelana. matahari redupkan pelangi menjadi cahaya aurora. dengus napas memburu di antara percumbuan daun dan ranting. urat-urat malu menyerpih di udara!


kesuburan dihargai dari kuantitas pengairan. daun gugur menjadi rutinitas kerapuhan sebuah flora. lentera stomata redup lantaran kehabisan sumbunya. yang dijalin dari khusuknya doa dan titian vertikal cinta.


denyut persandingan mulai rendah usianya. pertautan daun dan ranting tak mampu meredam badai yang keluar dari bibir armada awan. tunas-tunas hijau kehilangan kasih sayang dari induknya, yang dihasilkan dari percangkokan dua tanaman di luar fotosintesa.


Surakarta, 1 April 2007


Dimuat di harian Kendari Pos, 24 November 2012.














SEMAK BELUKAR


lihatlah semak belukar itu, katamu

sekilas tampak gelap dan menyeramkan

dibanding padang rumput yang luas di sampingku

(sesaat aku terdiam

mencerna kata yang mengalun dari bibirmu

laksana tanah gersang

merindukan hujan:

dan runtuhlah dinding nalar yang kubangun)


“andai kau bisa melihat dari sisi lain

kau pasti akan temukan satu alasan

mengapa rusa senang berlindung di sana

dan bukankah di sana dia bisa bernaung

dari terik dan hujan

dari pemburu yang mengintai setiap saat ”


Jepara, 17 April 2007


Dimuat di harian Solopos, 3 Juni 2007.















MERINTIS GERIMIS


dalam diam aku mendekam

antara ngarai dan tebing curam

bersama luka lintasi malam

sesaat muka aku tengadah

memuja malam berakhir indah

namun asa tinggalah punah

sewaktu badai mulai mendesah

dan adakah udara kebebasan

yang masih sempat aku rasakan

di antara langit yang bergelora

oleh mega-mega nestapa


padamu langit warna kelabu

kumohon jawab pertanyaan kalbu:

“mengapa kini aku merintis

dalam hari penuh gerimis?”


Jepara, 20 April 2007


Dimuat di harian Solopos, 3 Juni 2007.














LADANG GERSANG


apa kau tahu apa yang lebih bahagia

bagi ladang-ladang gersang

selain angin yang menggandeng gerimis

menghapus rasa dahaga

dan menyaksikan rerumputan berebut salam

kepadanya


karena salam adalah senandung rindu

yang mengalir tulus dari lubuk kalbu

mengantar dalam ziarah waktu

hilanglah semua kelu kalam lalu


Surakarta, 24 April 2007


Dimuat di harian Solopos, 3 Juni 2007.



















CAHAYA ILLAHI


pada jiwa-jiwa yang terdampar

oleh buasnya alur kehidupan

kuingin kau menyaksikan petuah matahari

yang menyinari bumi sepenuh hati

kau lihat sinarnya yang menembus tumpukan daun kering

yang telah menjadi humus

dan membantu menyuburkan tanahnya

bukankah sebelumnya kau anggap dedaunan itu

adalah tumpukan sampah

dan pernahkah kau merasa

jika dirimu adalah daun-daun kering itu

namun pernahkah kau menyadari

jika cahaya Illahi lebih dari matahari

bahkan membantumu menjadi

tunas muda kembali


Surakarta, 30 April 2007


Dimuat di harian Solopos, 25 November 2007.















JALAN TERBAIK


di tepian sungai yang mengalir di kotamu

kita menyusuri sampai hilir

kemudian kau berhenti di tengah muara

tanpa tahu jalan mana yang akan kau tuju

karena jalan tersebut nampak sebagai jurang terjal

seolah telah siap menelan orang yang melintasinya

namun aku memilih salah satu di antaranya

karena kutahu hidup ini penuh misteri

jalan datar belum tentu mudah dilalui

demikian juga sebaliknya

dan seandainya kau bisa mengerti:

lihatlah kapal itu!

ia berani menantang gelombang

karena itulah jalan terbaik


Surakarta, 2 Mei 2007


Dimuat di majalah Gradasi, Edisi Februari 2010 dan buku antologi Hujan Cinta (2010).















PELAYARAN TERAKHIR


inilah kali terakhir aku berlayar

setelah mengarungi buas samudra

dalam jiwa yang bergejolak

mengenang kembali tiap detik perjalanan

yang melekat erat dalam tingkap-tingkap kalbu

yang tanpa sadar telah mengantarku di ambang batas

di mana nakhoda harus merapat ke dermaga

meninggalkan bunyi gaduh

dari ombak yang menghantam lambung kapal

hingga setiap perjalanan hanya akan menjadi cerita

yang tak akan pernah habis

bagi anak cucu


Surakarta, 2 Mei 2007


Dimuat di harian Solopos, 25 November 2007.


















LANGKAH BERMUARA LELAH


tak seharusnya aku berjalan

di antara ngarai dan jurang terjal

yang bermukim di hatimu

sebab hanya menjadi sebuah langkah

yang hanya bermuara lelah

apalagi kau enggan menyambutku

di tengah jalan berliku, berbatu


Purchase this book or download sample versions for your ebook reader.
(Pages 1-26 show above.)