include_once("common_lab_header.php");
Excerpt for Alona by , available in its entirety at Smashwords

#4

ALONA

Diary Puisi

Irpan Rispandi


Pengantar


Perlahan lembar-lembar kertas mengeras

Setelah sebelumnya mengabut

Halaman demi halaman,

nampak namun hampa

Bak asap pipih yang disentuh tembus

Pena jari meraba ruang kosong



Bait diatas adalah penggalan dari puisi yang terdapat di buku ini. Ini bercerita tentang bagaima kekuatan untuk merangkai kata sempat melemah.

Tiada rasa yang teraduk bak adonan coklat, semua datar hampa. Karenanya tak ada kata-kata yang bisa menjelma menjadi puisi.

Namun ketika masa itu berlalu, dan pasti akan berlalu, perlahan jemari menari, bait-bait terakit mengait, rasa kembali menghangat atau mungkin dingin, namun tetap indah.

Keindahan dalam hangat mupun dingin ini haruslah diabadikan dalam rangkaian rima kata berirama.

Dalam tiap sapuan tinta

Tergaris panjang kisah-kisah

Yang dengan sendirinya bercerita

Riuh redup istana rasa



Sampaikan kepada dunia, betapa hidup ini indah saat hangat atau bahkan ketika dingin. Indah dalam dingin, sedikit perih namun legit. Indah dalam hangat, membuai menghidupkan.

Huruf berseru

Kata berkata

Aksara bercerita

Asa...menyaji makna semuanya


Alhamdulillah, buku keempat dari seri diary puisi ini akhirnya terwujud. Alona, berisi kelanjutan dari perjalanan hidup dengan segala haru birunya.

Sebelum Alona, ada 4 buku diary puisi yang telah saya terbitkan, yakni 2 kumpulan puisi twitter. 1 kumpulan puisi berbahasa Inggris dan 1 lagi berbahasa Indonesia. Saya sebut puisi twitter, karena merupakan kumpulan twit-twit puisi saya di account twitter @aa_irpan, yang kemudian saya ubah menjadi @irpanisme. Meski terdiri dari 2 buku, keduanya saya beri nomor #1.

Kemudian buku #2 berjudul Padma dan #3 berjudul Magnolia, kalau ini puisi-puisi yang saya terbitkan di media sosial Path, Facebook dan Instagram.

Dan buku Alona ini pun merupakan kumpulan puisi yang pernah saya publikasi di berbagai media dunia maya. Namun ada juga sebagian puisi yang tercantum khusus di buku ini.

Empat dimensi semesta, 3 ruang dan 1 waktu, tak bisa kita alami semuanya. Waktu berlalu bersama suasana ruang yang terjadi. Hanya bisa kita alami kembali dalam bingkai-bingkai kenangan. Diary Puisi adalah bingkai-bingkai kenangan yang mengabadikan empat dimensi semesta berserta keindahannya.

Selamat berpuisi.

Salam Sastra



@irpanisme



NB: Terima kasih kepada KreativeHexenkueche yang karya grafisnya dijadikan cover buku ini.



~~***

~~ 18 Apr 17 ~~

Berbalut gaun hijau

Kau tampak memendar rona

Wujudmu tiada bersudut

Tepat, tak kurang tak lebih


Semilir angin membelaimu

Riak gelombang berirama

Pancarkan aura suka

Burung menari meningkahi


Sejuk harummu

Tanah basah berembun

Kuhirup sepenuh dada

Hapuskan segala duka


Anggunmu menawanku

Indahmu melumpuhkanku

Pesonamu mengalahkanku

Tanpa syarat hatiku tertambat


Ingin rasanya selalu bersamamu

Namun tempatku bukan disini

Biarlah segala indahmu

Kuresap lagi di alam mimpi


****~


~~ 3 Mei 17 ~~

Tanah dimana aku lahir

Air olehnya aku besar

Tanah Airku

Indonesia


Nyiurnya melambai

Hutannya melandai

Padinya mengguning

Rempah-rempah dan pohon-pohon dewa


Emasnya Peraknya

Timahnya Tembaga

Bertabur Intan Permata

Bumi Indonesia yang kaya


Namun Indonesiaku yang cantik

Kaya dan Eloknya menarik

Tercium serigala-serigala

Dengan nafsu serakahnya


Berlomba mereka menyerang

Merebut menguasa memperkosa

Rusaklah alamku...

Hancurlah bangsaku...


Ketika kelam menggayut di langit negeri

Berkas-berkas cahaya menerobos

Melingkar mengikat menyatukan

Menyala meneduh menguatkan


Merah-Putih!

Dua beda yang menyatu

Merah-Putih!

Yang menyatu dan menyerbu

Merah-Putih!

Yang tak pernah mundur menyerah

Merah-Putih!

Yang menyerang dan menang


Biar selaksa Serigala

Sejuta nafsu angkara murka

Berkumpul berhimpun

Mengadu menipu

Percuma!

Kalian takkan mampu


Merah-Putihku

Sekali berkibar selamanya berkibar

Jika kau coba menurunkan

Aku kan menghandang di paling depan

Biar tubuhku hancur jadi debu

Kau tak kan bisa merebutnya dariku


*~~~~


~~ 2 Jun 17 ~~

Garis demi garis dilewati

Perlahan namun pasti

Lalui stasiun masa lalu

Laksana pagi meniup malam kelabu


Hidup itu melaju kedepan

Tak pernah berputar terulang

Ya, pasti ada persimpangan

Arah mana, kita yang tentukan


*~~~~


~~ 16 Jun 17 ~~

Ya...

Ya....

Belum namaMu terucap

Tenggorokanku tercekat

Air mata luruh

Haru berkecamuk

Namun hatiku memaksudMu


Ya....Allaah...

Engkau Tuhanku

Aku makhlukMu

Yang tak ada artinya

Bahkan setitik debu


Aku tak pantas

Bahkan sekedar dilihat sebelah mata olehMu

Aku Tak berharga

Tak berarti

Di hadapanMu


Aku bersujud di lantai keagunganMu

Dibawah telapak kuasaMu

Mengaku segala dosaku

Menerima segala catatan hitamku

Tak kupungkiri

Aku jahil


Ya...

Aku terisak dengan dada sesak

Namun hatiku memaksudMu

Ya...

Pecah tangisku


Ya Allaah...

Ya Allaah...

Ya Allaaaah...


Jika seribu siksa kau jatuhkan saat ini juga

Aku terima

Karena aku pantas

Aku pantas

Pantas


Namun, aku pun tak ingin Kau sebut Perajuk

Atau penantang

Merasa kuat menjalani adzabMu.


Tidak ya Allah

Tidak...

Bukan aku merajuk

Atau menantang

Merasa kuat dengan adzabMu


Tidak

Bukan itu

Aku menerimanya, karena aku pantas mendapat hukumanMu

Aku pantas mendapat adzabMu

Aku pantas...

Pantas...


Namun aku pun tahu

Engkau sang Maha Pengasih

Maha Penyayang

Meski karat dosaku setebal buku

Engkau Maha Pemaaf

Terbersit setitik harap

Engkau ya Ghafuur

Sudi bermurah hati

Untuk mengampuni makhlukMu ini


Ya Allah

Ampunilah mahlukMu ini

Ampunilah mahlukMu ini

Astagfirullah hal 'adziim

Astagfirullah hal 'adziim

Astagfirullah hal 'adziim


*****


~~ 3 jul 17 ~~

Riuh manusia


Purchase this book or download sample versions for your ebook reader.
(Pages 1-8 show above.)